Lampung • Aksara Lampung
Searah jarum jam:Bukit Sulang (Gunung Pesagi), Istana Gedung Dalom, Gajah sumatra, Gunung Raja Basa, Gunung Anak Krakatau, Harimau sumatra di Bukit Barisan, Gunung Tanggamus, Rumah Nuwo Sesat.
Sang bumi ruwa jurai
(Lampung) Satu daerah yg ditinggali sang dua masyarakat adat Suku Lampung yaitu Saibatin dan Pepadun
PetaNegara IndonesiaHari jadi18 Maret 1964 (hari jadi)Dasar aturan pendirianUU Nomor 14 Tahun 1964Ibu kotaKota Bandar LampungJumlah satuan pemerintahan
Daftar
- Kabupaten: 13 kabupaten
- Kota: 2 kota
- Kecamatan: 228 kecamatan
- Kelurahan: 205 kelurahan
- Desa: 2.449 desa
Kristen 2,32%
- Protestan 1,43%
- Katolik 0,92%
Hindu 1,41%
Buddha 0,30%
Kepercayaan 0,02%[tiga] • Bahasa
Daftar
- Indonesia (resmi/utama)
Lampung (secara umum dikuasai)
—Lampung Api
—Lampung Nyo
Jawa
Melayu
—Melayu Ogan
—Melayu Tengah
—Melayu Palembang
Sunda
—Sunda Banten
—Sunda Priangan
Bali
Minangkabau
Batak
Komering
sedang[4]Zona waktuUTC+07:00 (WIB)Kode pos
34xxx-35xxxKode area telepon
Daftar
- 0721 — Kota Bandar Lampung — Gedong Tataan - Tegineneng (Kabupaten Pesawaran) — Natar - Jati Agung (Kabupaten Lampung Selatan)
- 0722 — Kota Agung (Kabupaten Tanggamus)
- 0723 — Blambangan Umpu (Kabupaten Way Kanan)
- 0724 — Kotabumi (Kabupaten Lampung Utara)
- 0725 — Kota Metro — Gunung Sugih (Kabupaten Lampung Tengah) — Sukadana (Kabupaten Lampung Timur)
- 0726 — Menggala (Kabupaten Tulang Bawang) — Kabupaten Tulang Bawang Barat — Wiralaga Mulya (Kabupaten Mesuji)
- 0727 — Kalianda (Kabupaten Lampung Selatan) — Punduh Pidada (Kabupaten Pesawaran)
- 0728 — Kota Liwa (Kabupaten Lampung Barat) — Krui (Kabupaten Pesisir Barat)
- 0729 — Pringsewu (Kabupaten Pringsewu)
- "Sang Bumi Ruwa Jurai"
- "Bumi Sekala Brak"
- "Pang Lipang Dang"
- "Tepui Tepui"
- "Cangget Agung"
- Nuwo sesat
- Lamban gedung
- Lamban dalom
- Gedung pakuon
- Badik lampung
- Payan
- Laduk
- Keris
Peta Administrasi provinsi Lampung
Lampung (aksara Lampung: ) adalah sebuah provinsi paling selatan pada pulau Sumatra, Indonesia, dengan ibu kota atau pusat pemerintahan berada di kota Bandar Lampung [8]. Provinsi ini memiliki 2 kota yaitu kota Bandar Lampung & kota Metro serta 13 kabupaten. Posisi provinsi Lampung secara geografis di sebelah Barat berbatasan dengan Samudra Hindia, pada sebelah Timur menggunakan Laut Jawa, pada sebelah Utara berbatasan menggunakan provinsi Sumatra Selatan, dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Sunda.
Provinsi Lampung memiliki pelabuhan utama bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni, bandar udara primer yakni Radin Intan II terletak 28 km berdasarkan mak kota provinsi, serta Stasiun Tanjung Karang pada pusat bunda kota. Tahun 2020, penduduk provinsi Lampung berjumlah 9.007.848 jiwa, dengan kepadatan 268 jiwa/km2.[2]Sejarah
Peta Pembagian Administratif yang menunjukkan wilayah berdasarkan dalam Kepaksian dan Marga Lampung marga indeling residentie Lampung 1 Saat Drukkerij 1930 yg diperkuat sang Dewan Perwatin LMAL Provinsi Lampung tahun 2005.
Provinsi Lampung lahir pada lepas 18 Maret 1964 menggunakan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor tiga/1964 yg kemudian sebagai Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung adalah keresidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatra Selatan.
Kendatipun Provinsi Lampung sebelum lepas 18 Maret 1964 tadi secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatra Selatan, tetapi daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yg sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khazanah istiadat budaya pada Nusantara. Oleh karena itu, dalam zaman VOC pada dapat menurut berbagai sumber bawasanya Vereenigde Oostindische Compagnie (Persatuan Perusahaan Hindia Timur) yg berada di bawah pemerintahan Belanda dalam tahun 1800 selama abad ke-19 sampai abad ke-20, Hindia Belanda merupakan galat satu koloni Eropa yg paling berharga pada bawah kekuasaan Imperium Belanda. Tatanan sosial kolonial berdasarkan dalam struktur rasial dan sosial yang kaku dengan para elit Belanda yg tinggi terpisah akan tetapi permanen herbi penduduk pribumi yang dijajah oleh mereka, sedangkan kata Indonesia digunakan buat lokasi geografis sehabis tahun 1880 Masehi, nama Hindia Belanda tercatat pada dokumen VOC dalam athun baru 1620 Masehi. Daerah Lampung sendiri tidak terlepas menurut incaran penjajahan Belanda.
Lampung kemungkinan besar pernah sebagai daerah kekuasaan Kerajaan Sunda, setidaknya sampai abad ke-16. Sebelum akhirnya Kesultanan Banten menghancurkan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Sultan Banten yakni Sultan Ageng Tirtayasa, lalu tidak mengambil alih kekuasaan atas Lampung. Hal ini dijelaskan pada buku The Sultanate of Banten karya Claude Guillot pada page 19 menjadi berikut:
"From the beginning it was abviously Hasanuddin's intention to revive the fortunes of the ancient kingdom of Pajajaran for his own benefit. One of his earliest decisions was to travel to southern Sumatra, which in all likelihood already belonged to Pajajaran, and from which came bulk of the pepper sold in the Sundanese region".[9]
Di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683) Banten berhasil sebagai sentra perdagangan yang bisa menyaingi VOC pada perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Dalam masa pemerintahannya, Sultan Ageng berupaya meluaskan daerah kekuasaan Banten yang terus mendapat kendala karena dihalangi VOC yg bercokol pada Batavia. VOC yg tidak suka menggunakan perkembangan Kesultanan Banten mencoba banyak sekali cara buat menguasainya termasuk mencoba membujuk Sultan Abu Nashar Abdul Qahar, Putra Sultan Ageng buat melawan Ayahnya sendiri.
Dalam perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Abu Nashar Abdul Qahar meminta bantuan VOC & menjadi imbalannya dia menjanjikan akan menyerahkan penguasaan atas wilayah Lampung kepada VOC. Akhirnya dalam lepas 7 April 1682 Sultan Ageng Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan sebagai Sultan Banten.
Dari perundingan -perundingan antara VOC menggunakan Sultan Abu Nashar Abdul Qahar menghasilkan sebuah piagam menurut Sultan Abu Nashar Abdul Qahar tertanggal 27 Agustus 1682 yg isinya antara lain mengungkapkan bahwa semenjak ketika itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas wilayah Lampung diserahkan sang Sultan Banten kepada VOC yg sekaligus memperoleh monopoli perdagangan pada daerah Lampung.
Pada lepas 29 Agustus 1682 iring-iringan armada VOC dan Banten membuang sauh pada Tanjung Tiram. Armada ini dipimpin sang Vander Schuur dengan membawa surat mandat menurut Sultan Abu Nashar Abdul Qahar yg mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yg pertama ini tidak berhasil & dia tidak menerima lada yg dicarinya. Perdagangan pribadi antara VOC menggunakan Lampung mengalami kegagalan disebabkan lantaran nir seluruh penguasa pada Lampung eksklusif tunduk begitu saja kepada kekuasaan Sultan Abu Nashar Abdul Qahar yg bersekutu dengan kompeni, sebagian mereka masih tidak mengakui Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Kerajaan Banten dan menduga kompeni tetap menjadi musuh.[10] Sementara itu ada keraguan dari VOC tentang status penguasaan Lampung di bawah Kekuasaan Kesultanan Banten, yg kemudian baru diketahui bahwa penguasaan Banten atas Lampung tidaklah absolut.
Logo DistrikKeresidenan (Oosthaven) saat penjajahan Belanda